Dieng, 23-24 Maret 2012

April 8, 2012 § Leave a comment

Tanggal 23 Maret kemarin, aku beserta ketiga kawanku (si om, si woi, dan bung Ardhan), kembali melakukan perjalanan. Kali ini ke Dataran Tinggi Dieng, di Jawa Tengah sana.

Berbeda dengan perjalanan yang dulu (Ujung Kulon dan Gunung Gede), kali ini aku sedikit sudah meng-upgrade perlengkapan untuk naik gunung. Kini aku sudah memiliki carrier ku sendiri. Deuter Air Contact 55+10. Begitu pula dengan si om dan si woi. Mereka juga baru membeli carrier dengan brand yang sama denganku, deuter.

Start perjalanan kali ini adalah dari Cilegon. Urutan perjalanannya adalah Cilegon –> Bandung –>Wonosobo –> Dieng.

Waktu itu kami berangkat hari kamis pagi, sekitar jam 08.00 dari Terminal bayangan Cilegon. Sampai di Bandung sekitar jam 15.00 dan lalu istirahat sebentar di tempatnya si om. Dari Bandung, kami berangkat ke Wonosobo menggunakan bus Sinar Jaya.

Berangkat pukul 21.00 dan sampai di Wonosobo sekitar jam 07.00 (Kala itu setengah penumpang dari bus  yang kami naiki berisi para Praja IPDN (Benarkah istilah yang kugunakan ini??). Di terminal Wonosobo, kami istirahat sebentar untuk makan pagi dan “membuang ranjau” (Nasi gudeknya enak sekaliii….). Setelah itu, kami naik bus lagi (bus yang lebih kecil) untuk mencapai Dieng. Sekitar 45 menit perjalanannya. Rp.8.000,- biayanya.

Sesampainya di Dieng, kami lalu mulai berjalan, mengunjungi objek-objek wisata yang ada di sana. Di Dieng ada banyak objek yang bisa dilihat. Telaga Warna, Kompleks Candi, Telaga Cibong, sumber air panas, ataupun Puncak Sikunir. Itu baru beberapa. Karena kompleks Dataran TInggi Dieng yang luas, tidak semua objek wisata kami datangi.

Alur perjalanan kami waktu itu adalah: Telaga warna –> Kompleks Candi –>Sumber Belerang –> Telaga Cibong –> Lihat Sunrise dari Puncak Sikunir.

Namun, kalau boleh jujur, menjelajahi Dieng tidak seperti ekspektasiku. Ternyata di Dataran Tinggi Dieng sudah dibuatkan jalan aspal sehingga pengendara mobil atau sepeda motor bisa mencapai objek-objek itu tanpa perlu bersusah payah. Rasanya, cuma kami berempat dan dua wisatawan asing saja yang menjelajahi Dieng dengan berjalan kaki, sedangkan sisanya, mengendarai mobil atau motor. Padahal, bagiku pribadi, ada kenikmatan tersendiri saat merasakan suatu perjalan yang jauh ataupun melelahkan, saat menapaki bebatuan yang curam, merasakan penat di kedua betis, merasakan kaos yang basah oleh keringat, dan merasakan degup jantung yang semakin memburu cepat. Apalagi saat engkau tahu tempat yang kau tuju sudah dekat.

Dengan adanya jalan aspal itu, dan mobil dan motor yang lalu lalang, Dieng telah membuat sesuatu yang indah itu menjadi sesuatu yang biasa saja. Tidak begitu seru. Telaga warnanya menjadi biasa, karena banyak sekali manusia lalu lalang di sana. Pun begitu dengan Kompleks candi yang ada di sana. Tiap sebentar kami selalu melihat banyak muda-mudi. Di telaga warna saja banyak berderet muda-mudi yang ingin berfoto.

Tapi, tetap saja ada hal-hal yang lumayan seru terasa saat ke Dieng kemarin. Tiga hal. Pertama dan terpenting, jalan-jalan bersama ketiga temanku ini akan selalu menjadi salah satu petualangan terseru ku dalam hidup(semoga masih akan terus berlanjut. Amiiiinnn). Sedangkan dua hal lainnya itu adalah saat kami menyantap semangkuk mie ongklok plus gorengan tempe dan juga saat melihat sunrise di puncak Sikunir.

Mie ongklok. Tidak seperti mie pada umumnya. Mie ini seperti disiram dengan kuah kental yang terbuat dari sagu. Atau jika engkau pernah mencoba sup asparagus, nah, kuah kental sup asparagus itulah yang aku maksudkan. Di dalam semangkuk mie ongklok itu juga ada sate ayam (ataupun sapi) dan ada kuah kacangnya juga. Semua dalam satu mangkuk. Yang jelas, enak sekali. Belum lagi gorengan tempe dan sambal hijau yang tersedia di meja. Sedap. Sungguh sedap!!

Sedangkan yang kedua adalah melihat sunrise di puncak Sikunir. Kemarin saat ke Dieng, kami bermalam di puncak Sikunir, dan saat langit mulai bermandikan sinar jingga di ufuk Timur, kami pun menyaksikan Sang Matahari keluar dari peraduannya. Indah sekali.

________________________

Nb: Kemarin kami bertemu dengan 5 petualang lucu, dengan usia yang lebih tua dari kami berempat (bahkan lebih tua dari si om itu sendiri. hahaha). Mereka lah yang mengajak kami untuk mendirikan tenda di puncak Sikunir. Sebelum berpisah, salah satu di antaranya berujar,”Nanti kalau mau ke Merbabu atau Lawu, kami insyaallah siap jadi guide.”

Well, it seems like, the adventure is about to begin, again. Insya Allah.

Karena menjelajahi negeriku Indonesia adalah cita-citaku. Dan anda pun seharusnya begitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Dieng, 23-24 Maret 2012 at The Story Never Ends.....

meta

%d bloggers like this: