Anatomi traktus urinarius (part 1)

March 3, 2013 § Leave a comment

Hasil transkripsi e book Anatomi van de graff:

Sistem urinarius disebut juga dengan sistem berkemih. Sistem ini dimulai dari ginjal, sampai uretra. Komponen-komponennya adalah ginjal, sistem pelvikokaliseal, ureter, vasika urinaria, dan ureter. Hampir sama pada pria dan wanita, kecuali pada fungsi dan juga beberapa struktur anatominya. Pada pria, uretra tidak hanya berfungsi menyalurkan urine, namun juga berfungsi menyalurkan sperma, sedangkan pada wanita, uretra hanya sebagai traktus untuk menyalurkan urine ke luar tubuh. Sedangkan perbedaan pada anatominya terletak pada panjang uretra. Ureter wanita hanya sekitar 4 cm dan pada pria sekitar 20 cm dan berkelok-kelok, seperti huruf S.

1. GInjal

Ginjal berada di dinding posterior dari kavum abdomen dan berada di antara thorakalis 12 dan vertebra lumbalis 3 (gambar 1). Ginjal kanan umumnya 1,5 sampai 2 cm lebih rendah dibandingkan ginjal kiri oleh karena adanya hepar di sisi kanan sehingga menekan ginjal kanan. Ginjal merupakan organ retroperitoneal, artinya ginjal berada di belakang peritoneum parietalis (gambar 2). Pada dewasa, ukuran panjang ginjal sekitar 11,25 cm, dengan lebar 5,5 sampai 7,7 cm, dan tebal 2,5 cm, berbentuk seperti kacang. Sisi lateral ginjal berbentuk konveks, sedangkan sisi medialnya konkaf. Hilum renalis merupakan penekanan sepanjang sisi medial dimana terdapat arteri renalis, vena renalis, dan ureter. Hilum juga merupakan tempat drainase saluran limfatik dan inervasi untuk ginjal. Pada daerah superior ginjal, terdapat glandula adrenalis. Setiap ginjal mengandung lapisan lemak yang terdiri dari tiga lapisan. Kapsula renalis, yang melekat pada ginjal dan merupakan lapisan yang paling tebal, kapsula adiposa renalis, dan renal fascia, yang berfungsi melekatkan ginjal pada peritoneum dan dinding abdomen.

Sistem traktus urinarius

Gambar 1. Sistem traktus urinarius

Posis ginjal secara potonganmelintang

Gambar 2. Posis ginjal secara potonganmelintang

2. Struktur ginjal

Potongan koronal (gambar 3) menunjukkan 2 bagian utama ginjal, yaitu korteks renalis, yang bersinggungan langsung dengan kapsula renalis, dan medulla renalis, yang mengandung 8 sampai 15 piramida renalis. Sebagian dari korteks renalis memanjang daan berada di antara piramida renalis, membentuk kolumna renalis. Pada setiap apeks piramida renalis terdapat papila renalis yang mengalami proyeksi ke sisi dalam ginjal, yaitu menjadi kaliks minor. Beberapa kaliks minor akan bergabung menjadi kaliks mayor, dan semua kaliks mayor akan bergabung menjadi pelvis renalis. Pelvis renalis berfungsi sebagai tempat penampungan urine dan kemudian mentransportasikannya ke dalam ureter.

3. Ureter

Ureter, seperti ginjal, merupakan organ retroperitoneal. Organ tubular ini, panjangnya sekitar 25 cm, dimulai dari pelvis renalis sampai vesika urinaria, pada sisi posterolateral. dengan diameter sekitar 1 cm. Dinding dari ureter mengandung tiga lapisan. Lapisan bagian dalam merupakan mukosa yang melapisi mulai dari tubulus renalis hingga vesika urinaria. Lapisan tengah disebut lapisan muskularis, dan mengandung lapisan otot polos longitudinal dan sirkuler. Lapisan ini bersifat kontraktil dan menyebabkan adanya gerakan peristaltik yang timbul jika terdapat urine di dalam pelvis renalis. Lapisan paling luar disebut lapisan adventitia. Lapisan ini mengandung jaringan penyambung yang berfungsi menutupi dan melindungi lapisan-lapisan di bawahnya.

Ureter mendapatkan perfusi dari beberapa sumber. Cabang dari arteri renalis berfungsi mensuplai bagian superior. Arteri testicularis (atau ovarian), disebut juga arteri gonadal, memperfusi bagian medial, dan arteri vesikular superior berfungsi memperfusi ureter pars pelvis.

4. Vesika Urinaria

Vesika urinaria merupakan organ sakuler yang berfungsi sebagai tempat penampungan urine. Organ ini berada di sebelah posterior simfisis pubis dan berada di anterior rektum. Pada wanita, vesika urinaria menempel dengan uterus dan vagina. Ukuran vesika urinaria tergantung pada volume urine yang terkandung. Vesika urinaria yang kosong berbentuk piramid. Saat vesika urinaria terisi, bentuknya menjadi oval. Pada sisi basal vesika urinaria terdapat ureter dan uretra berada pada sisi inferior vesika urinaria (disebut juga sisi apeks).

Dinding vesika urinaria mengandung empat lapisan. Lapisan paling dalam, yaitu lapisan mukosa, megnadung epitel transisional yang akan menjadi semakin tipis seiring pengisian vesika urinaria. Pada bagian di mana ureter masuk ke dalam vesika urinaria, terdapat modifikasi lapisan mukosa menjadi katup, yang berfungsi untuk mencegah aliran balik dari vesika urinaria ke dalam ureter. Daerah segitiga yang terdapat di antara dua muara ureter dan uretra disebut sebagai daerah trigonum. Daerah ini mengandung rugae yang relatif lebih sedikit dibandingkan daerah lain pada vesika urinaria, sehingga bentuk trigonum relatif stabil meski terjadi distensi urine (saat pengisian) dan kontraksi (saat pengosongan)

Lapisan kedua pada vesika urinaria disebut dengan lapisan submukosa, dan berfungsi menyokong lapisan mukosa. Lapisan ketiga adalah lapisan muskularis dan mengandung tiga lapisan otot polos yang disebut juga dengan otot detrusor. Pada daerah leher vesika urinaria (muara sebelum masuk ke dalam uretra), otot detrusor mengalami modifikasi menjadi dua sfingter muskuler (disebut juga dengan sfingter uretra interna). Lapisan paling luar disebut dengan lapisan adventitia. Letak lapisan ini adalah di permukaan superior dan merupakan lanjutan dari peritoneum perietalis.

Perfusi pada vesika urinaria berasal dari arteri vesikular superior dan inferior, yang keduanya merupakan percabangan dari arteri iliaka interna, yang akan kembali ke dalam vena iliaka interna. Inervasi autonomik pada vesika urinaria berasal dari pleksus pelvik. Inervasi simpatis berasal dari thorakalis 12 dan lumbal 1 dan 2. Sistem saraf simpatis menginervasi trigonum, muara uretra, dan pembuluh darah dari vesika urinaria. Inervasi parasimpatik, berasal dari sacrum 2, 3, dan 4, berfungsi mempersarafi otot detrusor. reseptor sensorik pada vesika urinaria yang terangsang saat terjadi distensi, menyalurkan impuls ke sistem saraf pusat melalui nervus spinalis.

5. Uretra

Uretra berfungsi menyalurkan urine dari vesika urinaria ke luar tubuh. Dinding dalam uretra mengandung membran mukosa dan dikelilingi oleh otot polos longitudinal yang tebal. Pada dinding uretra, terdapat glandula uretralis, yang berfungsi mensekresikan mukus ke dalam kavum uretra. Di sekeliling uretra, terdapat dua sfingter uretra. Sfingter pertama berada pada bagian superior uretra dan merupakan sfingter involunter, yang terbentuk dari otot detrusor dari vesika urinaria, disebut sebagai sfingter uretra interna. Sfingter yang kedua, disebut dengan sfingter uretra eksterna, dan merupakan sfingter yang volunter.

Pada wanita, panjang uretra sekitar 4 cm. Uretra pada wanita menyalurkan urine melalui orificium uretra ke dalam vestibulum di antara labia minora. Orificium uretra berada di antara klitoris dan orificium vagina (gambar 5). Pada wanita, uretra hanya berfungsi untuk menyalurkan urine, sedangkan pada pria, juga untuk menyalurkan sperma.

Gambar 5. Ureter, VU, dan uretra

Gambar 5. Ureter, VU, dan uretra

Well, di atas tadi adalah hasil translasi sebuah e book anatomi, Van de Graff. Kupikir tidak ada salahnya aku posting di sini. Jika ingin mendapatkan hasil yang sekiranya lebih akurat, silakan baca e booknya langsung. Mungkin saja ada kesalahan translasi di sini. Hohoho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Anatomi traktus urinarius (part 1) at The Story Never Ends.....

meta

%d bloggers like this: